YouTuber Makin Kaya dengan Video Kreatif

YouTuber Makin Kaya dengan Video Kreatif

 

JAKARTA

Teknologi harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menambah pendapatan. Itulah yang dilakukan para YouTuber dari seluruh dunia untuk bisa menghasilkan uang.

Platform YouTube

Dengan menghadirkan video kreatif yang diunggah ke platform YouTube sehingga menarik minat banyak orang untuk melihat video dan menjadi pelanggannya. Maka, jutaan bahkan miliaran rupiah bisa dihasilkan mereka setiap bulannya.

Demam menjadi YouTuber juga melanda Indonesia

Tidak hanya artis yang membuka kanal video YouTube, orang biasa pun terus berjuang agar bisa meraih pelanggan sebanyak-banyaknya. Salah satunya Dodi Hidayatullah, yang sudah menjadi YouTuber sejak awal 2018. Konten yang disajikan juga kreatif dan konsisten dengan menampilkan video islami dan positif.

Dia mengaku awalnya dikenal dengan konten mengaji, nasyid, salawat, dan vlog positif. Kemudian namanya baru melejit setelah salah satu konten YouTube-nya, yakni Mahar Ar- Rahman menjadi viral. Ini merupakan videonya saat menikah yang memberikan mahar berupa pembacaan surat Ar- Rahman.

Melihat respons publik yang bagus

Dodi memutuskan untuk fokus menjadi YouTuber. ”Tapi setelah menjadi petugas haji beberapa waktu lalu, saya semakin variatif membuat konten bertemakan positif. Saya yakin jumlah penontonnya akan mengikuti selama itu menarik,” ucap Dodi saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Awal mula sebagai YouTuber

Dia mengaku sudah menghasilkan pendapatan dari YouTube adsense mencapai Rp1,5 juta. Namun, kini dia semakin serius mengelola akun YouTube dengan membentuk perusahaan videografer untuk memudahkannya membuat konten. Bahkan pemasukannya juga kian bertambah untuk mengerjakan pesanan konten orang lain.

”Sekarang saya semakin serius mengelola akun dengan menayangkan hingga lima konten setiap bulannya. Secara pemasukan cukup fluktuatif di kisaran Rp5-10 juta per bulan,” ungkapnya.

Tahun lalu dia juga mendapat kesempatan dari Kemenag yang memberikannya kesempatan sebagai petugas haji untuk YouTuber. Salah satu syaratnya adalah memiliki channel YouTube dengan minimal 50.000 subscriber.

Kepada para milenial yang ingin merintis karier sebagai YouTuber, dia memberikan satu kunci yaitu harus berani memulai. Setelah mulai langkah selanjutnya adalah konsistensi dalam menghasilkan kon ten setiap bulannya. Dia menyarankan setidaknya hasilkan satu karya dalam sebulan.

Kemudian jangan lupa perhatikan tren yang berkembang di YouTube

Misalnya saya pernah meng-cover lagu Despacito dengan versi muslim. Atau, sekarang misalnya sedang tren lagu K-Pop. Tujuannya supaya penonton kita ikut terdongkrak,” pesannya. Pendapat serupa juga dikatakan Henji Wong, YouTuber yang biasa menampilkan video mengenai makanan.

Dia mengaku untuk bisa menjadi YouTuber tidaklah terlalu sulit dan tidak butuh modal besar. Pasalnya, dengan kamera video di ponsel pintar bisa dimanfaatkan untuk membuat konten video di YouTube. Henji mengaku ketertarikannya dengan video YouTube dimulai sejak empat tahun silam secara tak sengaja.

Awalnya iseng aja sih

Karena saya senang makan, senang foto, dan bikin video jadi mengalir aja,” ungkapnya. Dia menuturkan, bayaran pertama yang diterima setelah mengisi konten kreatif lewat YouTube hanya sebesar Rp75.000. Meski bayarannya tidak besar, Henji menganggap itu hanya sebagai bonus.

”Ya, kalau waktu itu sih tidak besar ya nominalnya, saya hanya menganggap bonus saja. Sebab saya juga belum terlalu full time terjun ke dunia seperti ini,” ungkapnya. Dia menambahkan, rencana sebagai YouTuber full time sudah ada dalam kepala.

”Tapi kalau ada klien yang minta di-endorse produk makanannya, pasti saya siapkan waktu. Sebab saya masih menganggap ini profesi sampingan, tapi ke depan tidak menutup saya bisa full time sebagai YouTuber mengingat sudah banyak contoh keberhasilan platform ini melahirkan public figure,” papar Henji.

Dihubungi terpisah, pakar digital media sosial, Heru Sutadi mengatakan dengan jumlah pengguna internet yang besar yakni 180 juta jiwa dan didominasi anak muda, tidak mengherankan banyak artisartis yang lahir dari platform media sosial ini.

”Misalnya di media YouTube, banyak sederetan artis yang lahir dari platformmedia ini. Sebut saja Atta Halilintar, Ria Ricis, atau bahkan yang sudah tenar Raffi Ahmad maupun Baim Wong,” ungkapnya kepada KORAN SINDO.

Menurut dia, dari 180 juta pengguna internet

80% memanfaatkan platform media sosial seperti YouTube, Facebook, Instragram, maupun Twitter. Meski begitu, untuk menjadi seorang selebritas tidaklah segampang atau semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan konsistensi dan ketertarikan tersendiri.

”Ada yang memotret kehidupan sehari-hari. Ada yang sifatnya ngerjain orang atau prank, ada yang mengulas soal makanan, pakaian, dan sebagainya. Jadi tinggal passion-nya aja. Dan, lebih penting konsistensi untuk mengumpat gambar maupun video,” ungkapnya.

Untuk membangun follower maupun pelanggan berlangganan seperti di platformmedia YouTube juga butuh anggaran yang tak sedikit. ”Ya modal kamera sebenarnya sudah cukup. Yang lebih serius lagi ada kru dan perlengkapan lain seperti lightning dan sebagainya. Biayanya tentu tak sedikit,” katanya. Yang pasti, kata dia, harus fokus untuk terjun di dunia seperti ini.

”Selama kreatif itu terus ada, saya kira juga akan terus menggeliat,” paparnya. Dia menambahkan, media seperti YouTube merupakan channel kreatif yang punya potensi besar untuk mengedukasi. Artinya, bukan hanya soal keartisan, ”kepo” yang ingin ditonton oleh khalayak, namun juga tontonan yang sifatnya edukasi dan kreatif.

”Karena ini potensi makanya berkembangnya juga akan ke mana-mana. Edukasi yang kita harapkan saat ini. Misalnya, soal kepariwisataan, eksplorasi makanan, dan sebagainya di YouTube ini juga akan berkembang ke arah sana sebab trennya ke sana semua,” pungkasnya.

Pengamat marketing Yuswohady menilai profesi YouTuber sangat potensial dalam jangka panjang. Tren ini tidak jauh berbeda dengan artis pengisi acara di TV yang memiliki pengaruh signifikan dalam budaya populer di Tanah Air. Namun, yang menjadi hukum dalam budaya pop adalah selalu mencari kebaruan yang sangat sulit untuk dijaga konsistensinya oleh pelaku konten kreator.

Pelakunya bisa gonta-ganti, tapi profesinya akan sustainable

Karena YouTube hanya menggantikan peran TV sesuai pasarnya sekarang adalah generasi milenial. Mereka menginginkan sesuatu yang ringan sehingga itulah yang akan populer,” ujar Yuswo kemarin.

Lebih lanjut, dia mengatakan tren di YouTube sangat cepat berubah. Pelaku konten kreatif sangat sulit untuk menjaga kesegaran dan kepopulerannya. Misalnya Atta Halilintar sekarang naik daun, lalu heboh diundang ke TV dan akhirnya akan membosankan. ”Biasanya yang dibangun perlahan bisa lebih bertahan lama dibandingkan yang meroket cepat,” ujarnya.

Namun, dia juga mengapresiasi YouTuber menghasilkan entrepreneur individu yang positif untuk negara. Mungkin awalnya orang nganggur lalu punya kreativitas akhirnya menghasilkan. Karyanya bisa saja memiliki pasar karena itu bisa membuat orang melejit atau from hero to zero.

”Bukan masalah penting atau tidaknya. Tapi selera penontonnya menginginkan itu. Faktanya karya yang substansial dan mengajak berpikir justru tidak viral di Indonesia. Itulah cermin masyarakat kita,” tegasnya.

 

Sumber : https://www.ram.co.id/