Uji Publik PPDB Kota Bandung Sepi Peserta

Uji Publik PPDB Kota Bandung Sepi Peserta

Uji Publik PPDB Kota Bandung Sepi Peserta
Uji Publik PPDB Kota Bandung Sepi Peserta

SUMUR BANDUNG – Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana

menyesalkan ketidakhadiran para pejabat terkait sosialisasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Menurut Elih, padahal kehadiran para pejabat tersebut sangat penting. Pasalnya, PPDB merupakan kegiatan yang melibatkan kepentingan masyarakat.

”Bukan rahasia, PPDB menjadi sorotan, sehingga perlu pemahaman sama agar tak menimbulkan gesekan di lapangan,” kata Elih di sela Uji Publik PPDB di Auditorium Pemkot Bandung kemarin (20/4).

Terkait persoalan krusial jelang penandatangan Perwal PPDB 2016 pada 14 Mei mendatang, dikatakan Elih, belakangan secara terus-menerus pihaknya mendata anak-anak rentan melanjutkan pendidikan.

Hal itu tak lepas dari penetapan kuota 20 persen untuk jalur non akademis. ”Perbaikan MoU

dengan sekolah swasta agar penutupan PPDB berbarengan tak mempengaruhi kuota jalur afirmasi,” tukas Elih.

Sedangkan kuota 10 persen untuk PPDB yang berasal dari luar kota, sahut Elih, sudah final. Kendati demikian, untuk kuota siswa dari wilayah perbatasan yang langsung bersinggungan, pembicaraan antar Kepala Daerah masih terus dijalin.

”Kuota di perbatasan masih dapat dipertimbangkan. Seperti arahan Komisi D DPRD Kota Bandung,” ujar Elih.

Elih juga menegaskan, untuk kuota warga miskin terdapat perubahan aturan pengambilan keputusan.

Dalam Perwal yang baru tidak melalui pembicaraan pleno muspida. ”Keputusan tersebut untuk ditaati bersama. Sehingga, tidak ada lagi perubahan penerimaan siswa miskin di tengah jalan,” tegas Elih.

Alur PPDB firmasi ditingkat SD 90 persen tidak berubah. Maka, di dalam Perwal ditegaskan mekanismenya melalui uji publik di tingkat lokal.

Menurut dia, yang rentan itu, di lapangan terjadi pembuatan SKTM baru, tetapi dilingkungan sekolah memungkinkan ditangani sejak awal. ”Meski tidak dilakukan verifikasi, data warga miskin beserta SKTM barunya akan masuk sistem. Jadi persoalan dapat dilokalisir,” tegas Elih.

Dengan jalur afirmasi, siswa memilih sekolah terdekat. Kuota 20 persen memungkinkan ada sekolah kekurangan siswa. Terutama di wilayah pusat kota. Solusi yuang akan diambil, terang Elih, pada sekolah kelebihan kuota 20 persen akan dilakukan seleksi di antara siswa itu sendiri. ”Selebihnya disalurkan pada sekolah yang masih kekurangan siswa,” ucap Elih.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/teks-cerpen/