Tenaga Kerja, Link Pendidikan-Industri yang Tak Match

Tenaga Kerja, Link Pendidikan-Industri yang Tak Match

Tenaga Kerja, Link Pendidikan-Industri yang Tak Match
Tenaga Kerja, Link Pendidikan-Industri yang Tak Match

Bambang Satrio Lelono mendapatkan tugas khusus dari bos barunya,

Ida Fauziyah. Ida, katanya, menginginkan kementeriannya fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan melibatkan industri. “Supaya (dilakukan) perbaikan sistem pelatihannya. Kebutuhan industri apa, kemudian dibuat program latihannya,” terang Dirjen Pembinaan, Pelatihan, dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) itu.

Link and match. Begitu kira-kira istilah untuk menyebut konsep penyesuaian

program pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja, seperti dikatakan Bambang. Bukan idiom baru sebenarnya. Gagasan soal pendidikan berbasis pasar kerja memang sudah lama digaungkan sejak masa Orde Baru. Tujuannya tidak lain memperbesar penyerapan tenaga kerja, khususnya pada sektor industri.

Sayangnya, hingga kini, link and match belum terbukti sakti.

Daya serap lapangan kerja masih menjadi masalah pelik bagi setiap masa pemerintahan di negeri ini. Kemenaker boleh mengklaim sudah menciptakan lapangan kerja untuk 10.340.690 orang kurang dari lima tahun. Namun pada saat bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan angka pengangguran di Indonesia mencapai 6,87 juta orang alias hanya turun 50 ribu dalam setahun.

 

Baca Juga :