Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif

Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif

Konservasi tanah secara vegetatif adalah segala bentuk atau kegiatan pemanfaatan tanaman dan sisa-sisa tanaman untuk mengurangi erosi (Marwanto dkk, 2002).

Kelebihan konservasi tanah secara vegetatif :

  1. Memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah.
  2. Penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi.
  3. Meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah dan mencegah tanah secara vegetatif.
  4. Memiliki nilai ekonomis sehingga dapat menambah penghasil petani.

Kekurangan konservasi tanah secara vegetatif :
Tidak semua tanaman dapat digunakan untuk melaksanakan konservasi tanah secara vegetatif, sehingga secara tidak langsung akan menghambat pertumbuhan tanaman.

Adapun teknik-teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah sebagai berikut (Marwanto, 2002):

1. Perhutanan KembaliĀ 

Teknik ini merupakan usaha untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayah dengan tanaman pohon-pohon. Perhutanan kembali juga berpotensi untuk peningkatan kadar bahan organik tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanah dan sangat mendukung kesuburan tanah. Teknik ini biasanya dilakukan pada lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana manusia seperti pertambangan, perlandangan berpindah, dan penebangan hutan.

2. Wanatani (agroforestry)

Teknik ini merupakan usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohon-pohonan, atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantaian. Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanman komoditas pertanian khusunya tanaman musiman. Penerapan teknik ini dilaksakan pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kulaitas tanah. Teknik ini memiliki beberapa macam, yaitu pertanaman sela, pertanaman lorong, talun hutan rakyat, kebun campuran, pekarangan, tanaman pelindung/multistrata, dan silvipastura.

3. Strip Rumput

Teknik ini merupakan usaha yang menggunakan rumput yang didatangkan dari luar areal lahan, yang dikelola dan sengaja ditanam secara strip menurut kontur untuk mengurangi aliran permukaan dan sevagai sumber pakan ternak.

4. Mulsa

Teknik ini merupakan usaha yang menggunakan bahan-bahan (sisa-sisa tanaman, seresah, sampah, plastik atau bahan-bahan lainya) yang disebar atau menutup permukaan tanah untuk melindungi tanah dari kehilangan melalui evaporasi. Teknik ini juga berfungsi untuk melindungi permukaan tanah dari pukulan langsung butiran hujan sehingga mengurangi terjadinya erosi pecik dan mengurangi laju dan volume limpasan permukaan.

5. Sistem Penanaman Menurut Strip

Teknik ini merupakan sistem pertanaman, dimana dalam satu bidang lahan ditanami tanaman dengan jarak tanam tertentu dan berselang-seling dengan jenis tanaman lainnya searah kontur.

6. Barisan Sisa Tanaman

Teknik ini merupakan usaha yang bersifat sementara dimana gulma/rumput/sisa tanaman yang disiangi ditumpuk berbaris. Teknik ini sama dengan sistem strip.

7. Tanaman Penutup Tanah

Teknik ini merupakan usaha yang menggunakan tanaman yang biasa ditanam pada lahan kering dan dapat menutup seluruh permukaan tanah. Tanaman yang dipilih sebagai tanaman penutup tanah umumnya tanaman semusim/tahunan dari jenis legum yang mampu tumbuh cepat, tahan kekeringan, dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan menghasilkan umbi, buah, dan daun. Tanaman Penutup mampu meningkatkan infiltrasi.

8. Penyiangan Parsial

Teknik ini merupakan usaha dimana lahan tidak disiangi seluruhnya yaitu dengan cara menyisakan sebagian rumput alami maupun tanaman penutup tanah sehingga disekitar batang tanaman pokok akan bersih dari gulma.

9. Penerapan Pola tanam

Teknik ini merupakan usaha yang sistemnya mengatur waktu tanam dan jenis tanaman sesuai dengan iklim, kesesuaian tanah dengan jenis tanaman, luas lahan, ketersedian tenaga, modal, dan pemasaran. Teknik ini berfungsi untuk meningkatkan intesitas penutupan tanah dan mengurangi terjadinya erosi. Teknik ini memiliki sistem pertanaman majemuk, yaitu pergiliran tanaman, tumpang sari, dan tumpang gilir.