Pameran Seni Rupa Kontemporer “Serupa Bunyi” Meriahkan IGF 2018

Pameran Seni Rupa Kontemporer “Serupa Bunyi” Meriahkan IGF 2018

Pameran Seni Rupa Kontemporer Serupa Bunyi Meriahkan IGF 2018
Pameran Seni Rupa Kontemporer Serupa Bunyi Meriahkan IGF 2018

Pameran Seni Rupa Kontemporer “Serupa Bunyi” dibuka secara resmi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal

Kebudayaan Kemendikbud, Sri Hartini, Jumat (10/8/2018) di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Jawa Tengah. Pameran ini merupakan hasil kerja sama Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud dan Taman Budaya Jawa Tengah. Pameran yang diselenggarakan dalam rangka International Gamelan Festival (IGF) 2018 ini terbuka untuk umum, dan akan berlangsung mulai tanggal 11 sampai dengan 15 Agustus 2018.

Dalam sambutannya, Sri Hartini menyampaikan harapannya agar melalui IGF ada kebangkitan seni gamelan. Ia pun optimistis IGF akan memberikan dampak besar bagi perkembangan seni gamelan. “Melalui platform (Indonesiana) ini kita gotong royong, kerja sama agar peradaban-peradaban yang memiliki nilai tinggi ada buahnya,” jelas Sri Hartini.

Karya seni rupa kontemporer yang dipamerkan dalam “Serupa Bunyi” merupakan hasil karya lima

seniman yang karyanya bertumpu pada gamelan. Mereka adalah Nindityo Adipurnomo, Hanafi, Edwin Raharjo, Heri Dono, dan (Alm.) Hajar Satoto.

Koordinator pameran, Aton Rustandi Mulyana menyampaikan, para seniman tersebut terpilih karena dalam berkarya gamelan menjadi sumber inspirasi tanpa tepi bagi mereka. “Gamelan menjadi ruang yang luas untuk menghasilkan karya, bahkan melampaui bentuk, bunyi, dan fungsi (gamelan) itu sendiri,” ujar Aton.

“Serupa Bunyi” adalah satu dari tiga pameran utama bertajuk “Saujana Gamelan”

yang diselenggarakan di Galeri Taman Budaya dalam rangka IGF 2018. Ketiga pameran utama itu adalah Pameran Seni Rupa Kontemporer “Serupa Bunyi” oleh Galeri Nasional Indonesia, Pameran Fotografi “Resonansi Gamelan” oleh Museum Nasional Indonesia, dan Pameran Artefak Arkeologis oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur (BKB) Jawa Tengah, serta Pusat Kajian Arsip dan Dokumen Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wiroguno, Yogyakarta. (Prani Pramudita)

 

Sumber :

https://riviste.unimi.it/index.php/test03/comment/view/10097/73956/101124