Meninggalkan Objek Terperkara

Meninggalkan Objek Terperkara

Arti pengosongan menurut hukum adalah tindakan meninggalkan objek terperkara. Pihak yang dihukum mengosongkan objek terperkara :

  1. pergi meninggalkarmya;
  2. dalam keadaan kosong;
  3.  untuk diserahkan dan dikuasai pihak yang menang tanpa gangguan.

Jadi, anti meninggalkan dalam eksekusi rill pengosongan adalah pihai, yang kalah pergi meninggalkan benda terperkara baik secara materiil maupun secara formil, sehingga tidak ada lagi sangkut paut hak dan penguasaan pihak yang kalah di atas benda yang dikosongkan, termasuk penikmatan dan penguasaan atas hasil yang timbul dari benda terperkara. Pengertian ini perlu dipahami, guna meneiitukan kesempurnaan eksekusi pengosongan. Sekiranya pada waktu eksekusi masih terkait lagi hak pihak yang kalah atas benda terperkara, eksekusi pengosongan belum dapat dikatakan sempurna. Untuk menuntaskannya, harus lagi dilakukan penyempumaan eksekusi.

  1. Yang Mesti Meninggalkan Benda yang Hendak Dikosongkan

Orang-orang yang termasuk mesti meninggalkan benda yang hendak dikosongkan. disebutkan secara tegas dalam Pasal 200 ayat (11) HIR atau Pasal 218 ayat (2) RBg dan Pasal 1033 RV, yang terdiri dari:

  1. orang yang kalah dalam perkara itu sendiri; dan
  2. kaum keluarganya.

Mereka ini harus pergi keluar meninggalkan benda yang dikosongkan secara permanen, bukan buat sementara, tetapi untuk selama-lamanya. Hendak ke mana mereka pergi, tidak menjadi soal bagi hukum. Pokoknya mereka hares meninggalkannya mencari tempat lain.

  1. Pengosongan Meliputi Segala Harta Benda Pihak yang Kalah

Pengosongan dalam eksekusi tidak saja mengenai orang, tetapi juga meliputi segala harta benda milik pihak yang kalah serta harta benda sanak keluarganya yang ada di atas benda yarig hendak dikosongkan. Pembebasan benda yang hendak dikosongkan meliputi orang dan harta benda milik mereka. Mika pada saat eksekusi dijalankan masih ada harta benda milik pihak yang kalah yang tertinggal, eksekusi dianggap belum sempurna dan belum selesai. Mesti diselesaikan penyempurnaannya sebagai lanjutan eksekusi terdahulu dengan jalan mengeluarkan baring-barang itu ke tempat lain.

Sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 197 ayat (5) HIR atau Pasal 209 ayat (4) RBg, di samping pejabat yang melaksanakan perintah eksekusi membuat berita acara, pejabat tersebut diwajibkan “memberi tahu” pihak tereksekusi (pihak yang kalah) kapan saat eksekusi dijalankan. Pemberitahuan tanggal eksekusi kepada pihak tcreksekusi merupakan “syarat imperatif’. Tanpa pernberitahuan, eksekusi yang dijalankan dianggap belum memenuhi syarat dan dapat dinilai sebagai tindakan yang menyalahi tata cara menjalankan fungsi yustisial, sehingga dapat dikatagori sebagai tindakan yang tidak professional (unprofessional conduct) yang bersifat contempt of court (mencemarkan vita peradilan).

https://promo-honda.id/office-hd-presentations-full-apk/