Masa Depan Pendidikan di Indonesia Harus Seimbang bersama dengan Teknologi

Masa Depan Pendidikan di Indonesia Harus Seimbang bersama dengan Teknologi

Bagaimana kecuali dua praktisi pendidikan yang punya dua pandangan tidak serupa perihal model pendidikan duduk bersama dengan dan berdiskusi mencari jalan tengah? Sebuah seminar pendidikan bertajuk “Pendidikan dalam Kehidupan Termesinkan” diselenggarakan terhadap Jumat (15/11) di Bentara Budaya Jakarta.

Acara berikut menghadirkan dua praktisi pendidikan yakni Pak Iwan Pranoto dan Pak Haidar Bagir. Kedua sama-sama menerbitkan buku berlandaskan pendidikan: Kasmaran Berilmu Pengetahuan karya Pak Iwan Pranoto dan Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia karya Pak Haidar Bagir. Masing-masing memaparkan pandangan perihal proses pendidikan di Indonesia melalui buku yang mereka tulis.

Pak Iwan Pranoto memulai diskusi bersama dengan menyebutkan isikan persentase bukunya yang rilis terhadap September 2019 lalu. Ia memulai bersama dengan membedakan peran guru dan pelajar antara pernah dan sekarang. Dulu, guru adalah subjek dan pelajar adalah objek sehingga modelnya berupa instruksi dan penuh penekanan. Sekarang, guru dan pelajar harusnya berkolaborasi jadi subjek dan kecakapan adalah objeknya.

Dosen sarjana dan pascasarjana bidang matematika ITB berikut mengistilahkannya bersama dengan metode drill plus kill untuk proses pendidikan yang masih diterapkan hingga sekarang dan metode thrill plus will sebagai pengganti yang diharapkan mampu diterapkan di proses pendidikan di Indonesia.

“Sistem pendidikan yang melalui drill dan selanjutnya membunuh semangat anak itu untuk belajar. Anak-anak mampu nilai tinggi, namun sebetulnya jenuh. Yang saya upayakan dalam buku ini sebetulnya thrill plus will. Thrill itu seperti orang yang penasaran, inginkan coba. Dan juga will yang adalah semangat berasal dari dalam diri,” terang Pak Iwan.

Menurut Pak Iwan, manusia masih jemawa terhadap diri mereka yang tidak mampu tergantikan oleh siapa pun. Padahal, bersamaan perkembangan teknologi, manusia mampu hidup berdampingan bersama dengan mesin. Caranya yakni bersama dengan memanfaatkannya. Pemanfaatan teknologi inilah yang ditekankan oleh Pak Iwan untuk menunjang menyelaraskan mutu proses pendidikan di Indonesia.

“Bagaimana sedia kan pendidikan untuk anak-anak yang di sekolah ini bersama dengan mutu sebaik yang ada di sekolah favorit ibukota? Menurut saya tidak sulit, udah ada teknologi komunikasi yang begini canggih. Apa susahnya?” ujar Pak Iwan.

Pendidikan Karakter Juga Penting
Pak Haidar Bagir punya pandangan tidak serupa perihal pendidikan di Indonesia. Dalam Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, ia sertakan sebuah kutipan berasal dari buku How Children Fail karya edukator asal Amerika Serikat bernama John Holt, “…kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/kurangnya usaha oleh sekolah, melainkan justru akibat ‘ulah’ sekolah.” Kutipan berikut terlampau disetujui oleh Pak Haidar lebih-lebih lihat proses pendidikan di Indonesia.

“Jadi yang merusak anak-anak itu bukan karena anak-anak itu kurang sekolah, namun sekolah itulah yang merusak anak-anak. Makanya saya bilang, sekolah sekarang bagi saya itu ban serep yang buruk,” tegas Pak Haidar.

Pandangan Pak Haidar perihal pendidikan adalah suatu kesibukan untuk mengaktualkan potensi manusia sehingga terlampau jadi manusia sejati. Ia setuju seandainya proses pendidikan mesti sertakan mesin atau teknologi seperti artificial intelligence (AI), namun pendidikan cii-ciri untuk manusia itu sendiri lebih penting.

Mendiang Stephen Hawking, ilmuwan kondang abad ini, menyebutkan bahwa Kedatangan AI bakal menghancurkan umat manusia. Hanya saja, Pak Haidar berpandangan bahwa seandainya AI terlampau terimplementasi dan berjalan, umat manusia tidak bakal hancur karena masih punya cii-ciri kemanusiaannya. Dan itu yang mesti tetap dijaga.

“Manusia bakal jadi manusia ketika artificial intelligence udah meraih tingkat tertinggi karena ada potensi kemanusiaan yang dahsyat dalam diri manusia yang tidak mampu tergantikan oleh AI yang sepanjang ini diabaikan,” ujar pendiri Yayasan Pendidikan Lazuardi tersebut.

Artikel Lainnya : https://tutorialbahasainggris.co.id/motivation-letter-5-cara-dan-contoh-membuat-motivation-letter-bahasa-inggris/

Selain melindungi cii-ciri kemanusiaan, tiga unsur yang mesti dikedepankan menurut Pak Haidar dalam pendidikan lebih-lebih pendidikan cii-ciri adalah moralitas, spiritualitas, dan lebih-lebih imajinasi. Ia lalu sertakan kutipan berasal dari Albert Einstein perihal imajinasi: “imajinasi lebih perlu berasal dari pengetahuan pengetahuan.” Inventor-inventor ternama sebetulnya memulai penemuannya bersama dengan mengandai-andai dengan kata lain berimajinasi.

Pada akhirnya, Pak Haidar Bagir setuju bersama dengan Pak Iwan Pranoto bahwa barangkali saja pendidikan membutuhkan mesin atau teknologi. Namun, pendidikan cii-ciri pun perlu dilakukan. Untuk paham lebih lanjut perihal pandangan keduanya, baca buku perihal pendidikan karya keduanya.

Baca Juga :