Kronologi Konflik Maluku

Kronologi Konflik Maluku

Kronologi konflik di Maluku dapat dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan pertama mulai tanggal 19 Januari 1999, kedua sejak 24 Juli 1999 dan tahapan ke tiga sejak 26 Desember 1999, mungkin juga kedatangan laskar jihad pada Mei 2000 dapat dijadikan sebagai tahapan keempat.

  1. Tahapan pertama dimulai pada tanggal 19 Januari 1999

Pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi suatu pertikaian antara seorang supir angkot dengan seorang preman di terminal bis Batumerah. Kerusuhan tersebut segera cepat meluas menjadi konflik antar orang Islam dan orang Kristen yang ada di wilayah Batumerah dan Galunggung.

Keesokkan harinya terjadi kebakaran di berbagai sudut kota Ambon. Gereja Maranatha sebagai pusat pemuda Kristen berikat kepala merah sedangkan Masjid Al Fatah sebagai pusat pemuda Islam berikat kepala putih. Dalam peristiwa ini orang dagang (Bugis, Buton dan Makassar) yang paling menderita karena tempat usaha mereka di pasar di rusak dan bakar. Sejak saat itu konflik senjata terus berlangsung siang malam. Pada tanggal 14 Februari terjadi serangan oleh orang Islam di Pulau Haruku terhadap orang Kristen di pulau itu juga.

Keadaan semakin memanas pada bulan Maret 1999. Pada 1 Maret terjadi insiden di Masjid Ahuru dimana beberapa anggota Polri dituduk melakukan pembunuhan terhadap orang islam yang sedang sholat. Walaupun hal ini tidak benar tetapi berita tentang hal tersebut sudah terdengar di Jakarta yang mengakibatkan adanya demonstrasi oleh umat Islam.

Kemuadian pada tanggal 31 Maret 1999 kerusuhan yang terjadi semakin meluas ke Tual (kepulauan Kei) dan pada tanggal 19-20 April konflik juga meluas ke kepulauan Banda. Tanggal 20 Juni terjadi juga di Waab, Kei Kecil. Lalu pada tanggal 15 Juli terjadi konflik antara negeri Kristen Ulat dengan negeri Islam Sirisori di Pulau Saparua.

  1. Tahapan kedua dimulai pada 24 Juli 1999

Konflik kedua ini bermula dari kerusuhan yang terjadi di daerah Poka Kotamadya Ambon yang selanjutnya menjalar ke kota Ambon. Pada hari pertama terjadi pembakaran diseluruh pusat ekonomi milik Cina sehingga mereka mengungsi dari Ambon. Pada tahapan kedua ini mereka sudah menggunakan senjata api rakitan.

Pada Agustus 1999 sejumlah aparat keamanan menyerang dan membakar gereja Galala bersama umat yang ada didalamnya. Lalu pada tanggal 18 dan 19 Agustus beberapa daerah Islam menyerang daerah Kristen Piru dan berulang lagi pada 2 Desember. Konflik antar aparat kembali lagi pada 3 Oktober di Batumerah. Konflik besar-besaran terjadi di Ambon antara 26 sampai 30 Oktober 1999.

Konflik Periode kedua juga terjadi pada saat pemilu tahun 1999 yang pada waktu itu dimenangkan oleh PDIP. Partai tersebut memiliki kedekatan dengan pemilik yang notabene beragama Kristen karena merupakan gabungan dari Parkindo, PNI dan Partai Nasionalis lainnya yang memiliki basis kuat di Maluku. Kemenangan PDIP tersebut disambut baik oleh komunitas Kristen dan mereka berharap bisa memperoleh kembali kursi di birokrasi melalui PDIP. Kekalahan Golkar maupun partai Islam lainnya yang pada umumnya didukung oleh komunitas Islam telah memunculkan kembali bibit-bibit konflik di Maluku. Ironisnya justru konflik Maluku yang semula hanya bentrokan dua negeri kini telah memperlihatkan keterlibatan aparat keamanan sebagai aktor lain dalam kerusuhan agama tersebut. TNI yang dekat Golkar sebagai partai pemerintah dianggap lebih memihak Islam, sementara polisi dekat dengan Kristen dengan keadaan seperti ini sudah pasti aparat keamanan tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Recent Posts