Kakak Beradik Okta dan Natali Atlet Gulat, Jago Banting dan Modeling

Kakak Beradik Okta dan Natali Atlet Gulat, Jago Banting dan Modeling

Kakak Beradik Okta dan Natali Atlet Gulat, Jago Banting dan Modeling
Kakak Beradik Okta dan Natali Atlet Gulat, Jago Banting dan Modeling

 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu pas untuk menggambarkan dua bersaudara ini. Bakat bergulat yang mereka miliki adalah ’’hadiah’’ dari orang tua yang merupakan atlet gulat.

PERAWAKAN Oktaviani Wahyu Putri Rahmadani, 11, dan Natalia Wahyu Putri,

7, tak menyiratkan bahwa keduanya pegulat. Rambut mereka panjang lurus. Perawakan keduanya tergolong kurus. Cara berpakaiannya juga modis. Hobinya menari. Tidak terbayang bahwa ternyata kakak beradik tersebut sudah berlaga di atas matras ajang gulat.
Kakak Beradik Okta dan Natali Atlet Gulat, Jago Banting dan Modeling
ANGKAT BAN TRUK: Ini salah satu latihan Okta dan Natali untuk kekuatan tangan. Dalam gulat, dibutuhkan kemampuan untuk mengangkat. Terutama mengangkat tubuh lawan. (Dipta Wahyu/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sang ayah, Sri Dwi Wahyudi, saat ini bekerja sebagai pelatih gulat di Puslatda (Pemusatan Pelatihan Daerah) Jatim. Selanjutnya, ibu mereka, Bangun Tampubolon, juga pelatih gulat kelas anak-anak. Dulu keduanya merupakan atlet gulat.

Karena biasa diajak berlatih gulat oleh ayah dan ibunya, lambat laun Okta –sapaan Oktaviani Wahyu Putri Rahmadani– kepincut. Sejak usia 5 tahun, dia rajin ikut ke tempat latihan. Okta yang lahir pada 11 Oktober 2005 itu mengikuti kompetisi gulat pertamanya pada 2013. Hebatnya, dia langsung menyabet juara I dalam kejuaraan daerah (kejurda) cabang olahraga gulat kelas 22 kg.

Setelah itu, Okta rajin berlaga di beberapa perlombaan. Deretan gelar juara

juga dikoleksinya. Dari juara II kelas 33 kg Kejurda 2014, juara I kelas 37 kg SMANOR CUP 2014, hingga juara I kelas B Walikota Cup 2015. Yang terbaru, dia meraih juara II Kejurda 2017.

Meskipun rajin mengoleksi gelar juara, perjuangan Okta tidak gampang. Dia menyatakan, untuk mengikuti kelas sesuai usianya, dia harus menurunkan berat badan. ’’Soalnya, aku kan tinggi, padahal masih SD,’’ katanya.

Akibat posturnya itu, Okta harus berlaga di kelas para atlet SMP. ’’Lawanku gede-gede, sempat takut sih,’’ tutur siswi SDN Klampis Ngasem III tersebut. Karena itu, Okta menuturkan, dirinya sempat melakukan diet ketat. Beratnya harus diturunkan 8 kilogram demi ikut kelas 39 kilogram.

Meski begitu, dia tetap menyukai olahraga gulat. Padahal, Okta harus diet ketat dan sempat sakit. Anak sulung di antara tiga bersaudara tersebut tetap ingin terus menekuni gulat. ’’Senang aja pokoknya,’’ katanya.

Hal itu lantas diikuti Natali, sapaan Natalia Wahyu Putri, adiknya

. Meski tak pernah akur, rupanya, keduanya kompak dalam hal gulat. Okta mengaku sering belajar teknik gulat bersama sang adik. ’’Kadang-kadang tekniknya dipraktikkan juga pas kami berantem, hehe,’’ ungkapnya.

Kalau sudah urusan gulat, keduanya jadi perkasa. Jago membanting lawan. Eh, tapi Okta dan Natali luwes juga berlenggak-lenggok di catwalk. Keduanya hobi mengikuti fashion show. Rupanya, bergulat tak membuat mereka serta merta tampak macho.

Sri, ayah Okta dan Natali, menuturkan bahwa ilmu gulat yang diajarkan kepada putrinya tersebut dimaksudkan untuk bekal menjaga diri. ’’Kebetulan yang gratis latihannya, ya, gulat itu. Kan kami latih sendiri,’’ ucapnya.

Sri awalnya tidak begitu menginginkan sang anak mengikuti jejaknya. Namun, bakat tersebut rupanya berhasil diwariskan. Kedua anaknya terbilang jago untuk usianya

 

Sumber :

https://www.storeboard.com/blogs/education/definition-of-text-review-and-examples/965580