Jenis Sistem Wanatani (Agroforestry) dalam Konservasi Tanah

Jenis Sistem Wanatani (Agroforestry) dalam Konservasi Tanah

 

Wanatani (Agroforestry) merupakan bagian bentuk usaha konservasi tanah secara vegetatif yang menggunakan antara tanaman pohon-pohonan, atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian.

Dimana penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim.

Tanaman tahunan ini mempunyai luas penutupan dau relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran tembus (thoughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar.

Sedangkan tanaman semusim ini hanya mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yang mempunyai energi perusak.

Sehingga penggabungan keduanya diharapkan dapat memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim (Subagyono et al, 2003).

Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim.

Adapun jenis-jenis sistem wanatani yang dikembangkan di Indonesia (Subagyono et al,., 2003), sebagai berikut.

1. Pertanaman Sela

Jenis ini memiliki sistem pertanaman campuran antara tanaman tahunan dengan tanaman semusim yang banyak dijumpai di daerah hutan dan kebun yang dekat dengan lokasi pemukiman.

Pertanaman sela bertujuan untuk menigkatkan intersepsi dan intensitas penutupan langsung sehingga memperkecil resiko tererosi.

2. Pertanaman Lorong

Jenis ini merupakan sistem dimana tanaman pagar pengontrol erosi berupa barisan tanaman yang ditanam rapat mengikuti garis kontur, sehingga membentuk lorong-lorong dan tanaman semusim berada di antara tanaman pagar tersebut yang diterapkan di lahan kritis.

3. Talun Hutan Rakyat

Talun merupakan lahan diluar wilayah pemukiman penduduk yang ditanami tanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupun buahnya. Dimana jenis sistem ini membutuhkan perawatan intensif dan hanya dibiarkan begitu saja sampai saatnya panen.

Sitem ini bermanfaat dalam hal konservasi melalui dapat mencegah erosi secara maksimal dan mempunyai fungsi seperti hutan.

4. Kebun Campuran

Sistem ini memiliki tanaman tahunan yang dimanfaatkan sebagai hasil buah, daun, dan kayunya. Dimana kebun campuran ini memberikan bantuan dalam mencegah erosi dengan baik karena kondisi penutupan tanah rapat sehingga butiran air hujan tidak langsung mengenai permukaan tanah.

5. Pekarangan

Sistem ini merupakan kebun di sekitar rumah dengan berbagai jenis tanaman baik itu tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Contoh tanaman pekarangan, ubi kayu, sayuran, tanaman buah-buahan, tanaman obat-obatan dan tanaman lainnya yang bersifat subsisten.

6. Tanaman Pelindung

Sistem ini memiliki tanaman tahunan yang ditanam di sela-sela tanaman pokok tahunan. Dimana fungsi sistem ini untuk mengurangi intensitas penyinaran matahari dan dapat melindungi tanaman pokok dari bahaya erosi terutama ketika tanaman pokok masih muda.

7. Silvipastura

Sistem ini merupakan bentuk lain dari sistem tumpang sari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunan bukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum). Dimana sistem ini mempunyai fungsi untuk mengembangkan peternakan sebagai komoditas unggulan di suatu daerah.

8. Pagar Hidup

Sistem ini merupakan sistem yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok. Dimana manfaat tanaman pagar untuk melindungi lahan dari bahaya erosi baik erosi air maupun angin.