Ibuku Tidak Sempurna

Ibuku Tidak Sempurna

Ibuku Tidak Sempurna
Ibuku Tidak Sempurna

Ibuku hanya memiliki satu mata. Saya membencinya, karena dia membuatku malu. Ibuku mengelola sebuah toko kecil di sebuah pasar yang menjual rumput liar. Pada suatu hari ketika aku berada di sekolah dasar. Ibuku datang ke sekolah. Saya sangat malu. Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku? Aku melemparkan tatapan penuh kebencian dan berlari keluar. Keesokan harinya di sekolah. Teman-teman bertanya “Ibumu hanya memiliki satu mata?!” dan mereka mengejek saya. Saya harap ibuku lenyap dari dunia ini sehingga Saya tega berkata kepada ibu, “Kenapa Ibu tidak memilikli 2 mata?! Ibu telah membuatku menjadi bahan tertawaan disekolah. Mengapa Ibu tidak mati saja?” Ibuku diam, tidak menanggapi. Saya merasa telah bertindak sangat buruk, tapi pada saat yang sama, rasanya lega juga telah mengatakan apa yang selama ini Saya ingin katakan kepadanya. Mungkin karena ibuku tidak menghukumku, maka Saya berpikir telah melukai perasaannya dengan sangat buruk. Malam itu … Saya terbangun, dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis di sana, begitu tenang, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Saya melihatnya, dan kemudian berpaling. Saya benci melihat ibu mengeluarkan air mata hanya dari satu matanya saja. Jadi Saya berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena saya membenci pada ibuku yang bermata satu dan kemiskinan kami. Lalu Saya belajar sangat keras. Saya meninggalkan ibu dan datang ke Ibukota untuk sekolah, dan diterima di Universitas Negeri. Lalu, Saya menikah dan membeli rumah sendiri. Lalu punya anak. Sekarang Saya hidup bahagia sebagai pria sukses. Saya suka di sini karena tempat yang tidak mengingatkan saya pada ibu. Kebahagiaan ini semakin besar, ketika seseorang tak terduga datang menemui saya. Itu adalah ibu!!. Masih dengan satu matanya. Rasanya seolah-olah seluruh langit runtuh menimpa saya. Putriku lari ketakutan setelah melihat mata ibu. Didasari rasa malu dan benci, maka saya berpura-pura tidak mengenal Ibu, “Anda Siapa? Aku sama sekali tidak mengenal Anda!” dia tidak menjawab. Aku berteriak padanya “Beraninya kau datang ke rumah saya dan menakut-nakuti anak saya! Pergi dari sini sekarang juga!” Ibuku dengan tenang menjawab, “oh, maafkan saya. Saya telah mendatangi alamat yang salah,” Dan dia menghilang. Saya lega karena Ibu tidak mengenali saya. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan peduli dan melanjutkan hidup saya tanpa mengingat-ingat kejadian ini. Suatu hari, sebuah undangan untuk menghadiri acara reuni sekolah datang ke rumah. Saya berbohong kepada istri saya dengan mengatakan bahwa saya akan melakukan perjalanan bisnis. Setelah reuni, Saya pergi ke gubuk tua, tempat masa kecil saya dulu … ketika membuka pintu, aku menemukan ibu terjatuh di tanah. Tapi aku tidak meneteskan air mata sedikit pun. Dia memiliki secarik kertas di tangannya yang ternyata adalah surat untung saya. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut: “Anakku, Saya pikir hidup saya sudah cukup. Dan … Saya tidak akan mengunjungi Ibukota lagi. Tetapi apakah itu merupakan permintaan yang berlebihan untuk memintamu datang mengunjungi saya sekali-kali? Aku sangat merindukanmu. Dan saya sangat senang ketika mendengar kau datang ke acara reuni. Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Untukmu… Aku sangat menyesal telah membuatmu malu karena hanya memiliki satu mata. Apakah kamu ingat, ketika kamu masih sangat kecil, kamu mengalami kecelakaan, dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata. Jadi aku memberimu salah satu mataku. Aku begitu bangga melihatmu telah memandang dunia baru dengan mataku. Aku tidak pernah marah padamu untuk apa pun yang telah kamu lakukan padaku. Ketika kamu membentak dan memarahiku, aku selalu mengatakan pada diriku bahwa, ‘itu karena dia mencintaiku. ” Aku rindu pada masa-masa ketika kamu masih kecil. Masa dimana kamu masih membutuhkanku. Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu sangat berarti bagiku.” Dunia saya hancur setelah membaca surat itu! Dan Saya menangis untuk orang yang telah hidup bagi saya. Yaitu Ibu saya.

Baca Juga :